Jumat, 01 November 2013

SO SOON

 

  lagunya mengingatkan kita tuk selalu yakin bahwa hidup di dunia hanya kefanaan, maka secerdas cerdas manusia di dunia ia yang menyiapkan bekal dikehidupan akhirat yang abadi. Moga Allah swt selalu menjaga kita dari segala tipu daya syaitan yang lemah.

 

 

So Soon | Maher Zain

Every time I close my eyes I see you in front of me
Tiap kali kupejamkan mata, kulihat kau di hadapanku

I still can hear your voice calling out my name
Masih terngiang suaramu yang memanggil namaku

And I remember all the stories you told me
Dan aku ingat kisah-kisah yang kau ceritakan padaku

I miss the time you were around
Kurindukan saat kau di dekatku

But I'm so grateful for every moment I spent with you
Tapi aku sangat bersyukur atas semua waktu yang kulewatkan bersamamu

'Cause I know life won't last forever
Karna kutahu hidup tidaklah abadi


CHORUS
You went so soon, so soon
Kau pergi begitu cepat, begitu cepat

You left so soon, so soon
Kau pergi begitu cepat, begitu cepat

I have to move on 'cause I know it's been too long
Aku harus lanjutkan hidup karena aku tahu sudah terlalu lama

I've got to stop the tears, keep my faith and be strong
Aku harus hentikan tetesan air mata, tetap percaya dan kuat

I'll try to take it all, even though it's so hard
Kan kucoba tuk menerimanya, meskipun sangat berat

I see you in my dreams but when I wake up you are gone
Kulihat kau di mimpiku tapi saat kuterjaga kau tiada

Gone so soon
Pergi begitu cepat


Night and day, I still feel you are close to me
Siang dan malam, aku masih merasa kau dekat denganku

And I remember you in every prayer that I make
Dan kuingat dirimu di setiap doa yang kupanjatkan

Every single day may you be shaded by His mercy
Setiap hari semoga kau dalam naungan rahmat-Nya

But life is not the same, and it will never be the same
Tapi kini hidup tak sama, dan takkan pernah sama lagi

But I'm so thankful for every memory I shared with you
Tapi aku sangat bersyukur atas tiap kenangan yang kubagi bersamamu

'Cause I know this life is not forever
Karena kutahu hidup ini tidak abadi


CHORUS

There were days when I had no strength to go on
Ada hari-hari di mana aku tak punya kekuatan tuk bertahan

I felt so weak and I just couldn't help asking: "Why?"
Aku merasa begitu lemah dan aku terus bertanya: "kenapa?"

But I got through all the pain when I truly accepted
Tapi kulewati semua sakit ini saat aku benar-benar menerima

That to God we all belong, and to Him we'll return, ooh
Bahwa kita semua milik Tuhan, kan kembali kepada-Nya


CHORUS
sember http://terjemah-lirik-lagu-barat.blogspot.com/2012/11/so-soon-maher-zain.html

Di Sudut itu

Assalamualayakum kawan kawan

Moga Keberkahan dan keselamatan selalu membersamai kita.
Keniscayaan bahwa hidup kita selalu dipenuhi pertemuan dan perpisahan
Namun cita dan harapan kan selalu menyatukan hati kita.
Dan doa Rabithah ini kan selalu mengikat ikrar janji setia
Tuk slalu tegakkan Asma Allah swt di kehidupan kita.
 Moga Allah swt kumpulkan kita lagi di Surga Nya yg penuh kenikmatan


Senin, 21 Oktober 2013

Kepergian

Dan setiap yang bernyawa tidak akan mati kecuali dengan izin Allah sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya .... (QS. Ali Imran Ayat 145)

Kehidupan dunia yang sesaat ini, terkadang menipu kita tuk melupakan negeri yang abadi. Negeri dimana kita menyemai segala yang kita tanam di dunia ini. Alangkah bodohnya diri ini, yang masih saja mau dibohongi oleh musuh yang nyata(setan) tuk mengikuti tiap langkah langkahnya.

Kematian sebagai pintu pertama tuk menuju kehidupan yang abadi. Merupakan pengingat yang paling baik tuk mengingatkan kita tentang negeri keabadian. Kepergian orang disekitar kita , terkadang membawa sesak didada. melemahkan raga, dan menitik nitik air mata. Bukan, bukan hanya kepergiannya saja yang tak kembali. Tapi yg membuat dada sesak, lemah raga, dan air mata, ialah salah satu pintu surga sudah tertutup.

Tak bisa diri ini melihat senyumnya yang begitu hangat menyambut sa.ng anak. Doanya disepertiga malam terakhir, memberikan inspirasi kehidupan. Pelukan keikhlasan penuh kasih dan sayang. Dan nasehatnya yang tulus dan menghujam.


Selamat Jalan Ibunda Sahabatku,

Moga Allah swt mengampuni dosa dosanya, dan menerima segala Amal Ibadahnya
Allahumma Firlaha Warhamha Wa 'afiha Wafuanha.


Tuk sahabatku .
Moga jadi pengingat diri ini tuk selalu menyayangi bundaku.

Catatan tentang ROHIS disekolah



Membangun masa depan

Sesungguhnya sebuah pemikiran itu akan berhasil diwujudkan manakala kuat rasa keyakinan kepadanya, ikhlas dalam berjuang dijalannya, Semangat dalam merealisasikannya dan kesiapan untuk beramal serta berkorban dalam mewujudkannya. Keempat rukun ini, iman, ikhlas . semangat dan amal merupakan karakter yang melekat pada pemuda. Karena sesungguhnya dasar keimanan itu adalah nurani yang menyala, dasar keikhlasan adalah hati yang bertakwa, dasar semangat adalah perasaan yang menggelora dan dasar amal adalah kemauan yang kuat. Hal itu semua tidak terdapat kecuali pada diri para pemuda.
(Hasan al bana)

Ketika kita merenungi kata-kata ini. Maka akan terpintas didalam pikiran kita, apa yang sebenarnya kita perjuangkan, bagaimana dan apa tujuan akhirnya. Dalam kalimat pertama ditegaskan bahwa untuk mewujudkan sebuah ide/gagasan, ialah memiliki keyakinan yang kuat kepadanya. Sekarang yang menjadi pertanyaan, apa kita yakin dengan apa yang kita jalani hari ini dan kemaren?
Terlepas dari itu semua, kita perlu menyadari dan memahami  apa yang sebenarnya kita lakukan. Dan hasil akhir apa yang akan kita peroleh.dan bagaimana cara kita memperoleh hasil tersebut. Untuk menguatkan langkah kita. Agar langkah ini semakin terarah dan roda-rodanya dapat berputar dengan cepat menyambut momentum yang akan terus datang.
            Kita semua sepakat bahwa hari ini menentukan masa depan. Rangkaian-rangkaian kegiatan yang kita lakukan hari ini akan menjadi sebuah produk besar yang menggambarkan kerja keras kita dikemudian hari. Visualisasi/menggambarkan masa depan secara jelas biasa kita sebut dengan visi. Visi menjadi penting bagi sebuah organisasi yang ingin tetap eksis dan memberikan kontribusi signifikan di dalam aktivitasnya.
            Dalam ranah dakwah smkn 17, kita tidak hanya memahami rohis sebagai wasilah(sarana) dakwah. Tetapi rohis harus menjadi “sekolah” bagi pemuda-pemuda Islam untuk mengembangkan potensinya, sesuai dengan amanat visi rohis tersebut. Untuk itu, kita perlu melihat seberapa besar alumni-alumni rohis yang sudah berperan secara optimal di dalam masyarakat sesuai dengan kompetensi yang dikembangkan di rohis.
            Rohis merupakan bagian dari masyarakat di smkn 17. tentu harus bisa memberikan kontribusi yang maksimal dalam kemajuan smkn 17 dan sekitarnya(lihat visi rohis) . dan hal itu akan sulit(bahkan mustahil) jika peran alumni sangat minim. Alumni yang telah membentuk wadah untuk mengaktualisasikan semangat dakwahnya maka membentuk sebuah forum alumni rohis yang diberi nama ISHLAH, tentu dengan ghiroh  ingin berperan lebih aktif dan massif dalam mengembangkan rohis 17.
            Maka itu perlu ada penyamaan visi dan misi antara Rohis dan Ishlah. Sehingga terbentuk sebuah satu kesatuan yang integral dan komprehensif dalam mengelola dakwah sekolah. Adanya kesamaan akan memberikan ruang gerak yang luas untuk masing-masing organisasi ini agar dapat berperan secara optimal dan terarah. Dan bisa bersinergi membangun masyarakat smkn 17 yang Islami dan memperat ukhuwah didalamnya.






Minggu, 13 Oktober 2013

Sakit

beberapa pekan ini masih mendapat kabar dari seorang sahabat mengenai ibundanya yang sedang sakit. Alhamdulillah walau agak jauh, bisa berkunjung kerumahnya. Saat sampai dirumah ibunya, tak disangka sahabat saya ini menangis, mungkin rindu dan sedih melihat kondisi ibunya. Semoga Allah swt segera penyakit di Ibundanya dan menjadi penggugur dosanya. Merenungi kejadian ini, Saya jadi teringat untaian kata dari blog seseorang yang ibundanya wafat terkena penyakit Kanker

"Sejatinya penyakit itu makhluk Allah swt yang sangat taat. Ia memberikan pelajaran indah tuk penderita. Menumbuh tambahkan kasih dan cinta bagi sesama." (agak di arransement ulang ya kata katanya)

ya, memang hidup ini hanya diisi oleh dua kebaikan yaitu sabar dan syukur. seperti tweet Ustad Salim a fillah

"Yang lebih indah bukan lepas dari masalah; tapi mengeja kesabaran. Yang lebih jelita bukan mendapat karunia; tapi mewujudkan kesyukuran."

Moga kesabaran selalu menghiasi ibu dan keluargamu kawan. Moga temanmu yang tak pantas disebut teman karna belum banyak yg bisa diberikan dapat mengambil ibrah atas peristiwa ini. 

Memaknai amanah kehidupan




Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul dan juga janganlah kamu mengkhianati amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui
(Q.S. Al-Anfal ayat 27)
Sesosok tubuh yang gagah dan perkasa sedang mengejar seekor unta zakat yang lari. Dipanggillah lelaki itu oleh utsman bin affan ra.”wahai amirul mukminin, apa yang sedang kau kejar”? lelaki itu menjawab”aku sedang mengejar unta hasil zakat”, padahal waktu itu, hari sangat panas sekali. Lanjut utsman” istirahatlah dulu dirumahku, biarkan budakku  yang mengejar unta itu” dengan lantang sang khalifah menjawab”wahai utsman, seandainya Allah swt menghisabku di yaumil akhir nanti, maka yang akan dimintai pertanggungjawaban mengenai unta zakat ini ialah aku bukan budakmu”
Inilah sebuah kisah dari seorang khalifah umar bin khatab. Amirul mukminin yang dikenal mempunyai rasa tanggung jawab yang tinggi terhadap amanahnya(sense of responsibility). Kisah ini menjadi ibrah bagi kita, bahwa semua amanah yang diserahkan kepada kita akan dimintai pertanggungjawaban di yaumil akhir nanti. Bagaimana seorang khalifah tentu bisa dengan mudah meminta bantuan kepada pembantu-pembantunya untuk sebuah urusan kecil yaitu mengejar seekor unta yang lari. Tapi apa yang dilakukan umar, beliau mengejarnya sendiri. Ya, karena di yaumil hisab tak ada perhitungan secara jama’ah. Tapi nafsi-nafsi walaupun di dunia kita amal jama’i.
Namun apakah arti amanah bagi kehidupan kita. Apakah hanya sebuah jabatan yang nanti hanya kita bangga-banggakan kelak ketika menjadi pembicara. Kita ceritakan kepada penerus-penerus kita bahwa dulu kita memegang amanah yang besar. Tentu bukan itu jawabannya, seharusnya dengan lantang kita akan menjawab seperti jawaban khalifah umar bin khatab ra. Ya, karena amanah ini akan dimintai pertangungjawabannya.
Terkadang kita merasa berat, karena timbul dalam pikiran kita”ana telah banyak amanah”, sehingga menyebabkan kita melalaikan amanah yang lain. Apakah kehidupan kita sesibuk Rasulullah. Yang harus mengatur Negara, memimpin perang, membina umat, dan lain sebagainya. “toh itukan Rasulullah, seorang Nabi”, itu hanya jawaban orang-orang yang tidak mempunyai jiddiyah(kesungguhan). Ketika seseorang memiliki kesungguhan maka apapun bisa terjadi dengan kehendak Allah swt. Sudah lupakan kah kita dengan Q.S. Muhammad ayat 7, coba kita renungi lagi maknanya.
Ikhwafillah, pikullah amanah dakwah ini dengan kesungguhan. Karena dengan itu, engkau akan merasakan betapa manisnya iman. Yang seandainya nikmatnya iman bisa direbut, tentu para raja beserta seluruh prajuritnya akan merebutnya. Tapi, sekali lagi, nikmat ini takkan pernah bisa rebut, tapi ia harus ada didalamnya, berjuang memikulnya, mengorbankan seluruh harta dan jiwanya untuk memikul amanah ini dengan 2 pilihan, hidup mulia atau mati syahid.

Minggu, 20 Januari 2013

Konsensus Washington


Konsensus Washington
Ketika negara-negara Amerika Latin— terutama tiga negara paling berpengaruh, yaitu Meksiko, Brasil, dan Argentina— bangkrut pada pertengahan 1980-an dan paruh pertama 1990-an, IMF, Bank Dunia, dan para ekonom Amerika Serikat yang bermarkas di Washington lalu meracik resep obat generik untuk mengatasinya. Oleh ekonom John Williamson, resep generik ini diberi nama Konsensus Washington, yang praktis dihasilkan oleh para ekonom beraliran liberal dan konservatif. Semula, resep ini didesain untuk menangani Amerika Latin, tetapi kemudian terpikir, negara-negara berkembang lainnya pun bisa mengaplikasikannya (Gerber 2002:379). Konsensus ini terdiri atas 10 elemen, yang bisa dirangkum menjadi tiga pilar, yakni (1) disiplin anggaran pemerintah (fiscal austerity atau fiscal disipline), (2) liberalisasi pasar (market liberalization), dan (3) privatisasi BUMN (Stiglitz 2002:53). Secara singkat, isi Konsensus Washington—yang sering juga disebut sebagai pendekatan Neoliberal—adalah (Williamson 1994:26-7; Burki dan Perry 1998:7, serta Lynn 2003:63-4). Pertama, disiplin fiskal. Pemerintah diminta menjaga agar anggarannya mengalami surplus. Kalaupun terpaksa defisit, tidak boleh melampaui dua persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Kedua, memberikan prioritas kepada belanja sektor publik, terutama di sektor pendidikan dan kesehatan, sebagai upaya memperbaiki distribusi pendapatan. Ketiga, memperluas basis pemungutan pajak agar dapat dibangun struktur penerimaan anggaran yang sehat. Keempat, liberalisasi finansial. Suku bunga harus dijaga positif secara riil (lebih tinggi daripada laju inflasi) dan hindari kebijakan suku bunga yang mengistimewakan debitor tertentu (preferential interest rates for favored borrowers). Kelima, kurs mata uang harus diusahakan kompetitif (tidak terlalu kuat), tetapi kredibel (tidak terlalu lemah). Keenam, mendorong liberalisasi perdagangan melalui upaya menghapus restriksi kuantitatif (hambatan perdagangan, seperti pengenaan tarif, kuota, dan larangan-larangan lainnya). Ketujuh, menerapkan kesamaan perlakuan antara investasi asing dan investasi domestik sebagai insentif untuk menarik sebanyak mungkin investasi asing langsung. Kedelapan, untuk mendorong kinerja badan usaha milik negara (BUMN), seyogianya dilakukan privatisasi (penjualan saham ke sektor privat). Kesembilan, pasar harus didorong agar lebih kompetitif melalui serangkaian kebijakan deregulasi dan menghilangkan hambatan atau restriksi bagi para pelaku ekonomi baru. Kesepuluh, harus ada perlindungan terhadap property rights, baik di sektor formal maupun sektor informal. Keunikan tiap negara Sepintas, semua butir konsensus itu tampak menjanjikan dan sebagian besar memenuhi kebutuhan “diet” bagi negara- negara berkembang secara umum. Namun masalahnya, tetap saja negara-negara yang terkena krisis mempunyai keunikan (uniqueness) masing-masing, yang harus diakomodasi. Program “diet” Konsensus Washington ini dulu didesain untuk mengobati Amerika Latin, sebuah kawasan yang kental pergolakan politik sering gonta-ganti pemerintahan sehingga disebut “republik pisang” (banana republic). Konsekuensinya timbul ketidakpastian (uncertainty) amat besar. Akibatnya, terjadilah hyperinflation, yakni inflasi besar yang bahkan mencapai 50 persen per bulan atau ekuivalen 500- 600 persen per tahun. Kondisi ini pasti berbeda dengan Indonesia, yang meski menghadapi uncertainty dan distrust (ketidakpercayaan), tetapi inflasi tertinggi saat krisis tahun 1998, “hanya” 78 persen. Kita memang pernah mengalami hyperinflation 650 persen, tetapi itu terjadi pada tahun 1965. Jadi, karakteristik krisis Amerika Latin 1980-an tentu berbeda dengan Indonesia 1998. Obatnya tentunya harus dimofidifikasi. Kelemahan terbesar program IMF di Indonesia—sebagaimana sering didiskusikan, terutama oleh Stigltz (2002)—adalah saat mereka memaksakan penutupan 16 bank pada 1 November 1997, tanpa lebih dulu menyiapkan jaring pengaman finansial (financial safety net). Akibatnya, terjadi kekalutan luar biasa, nasabah menarik dananya dan bank-bank kolaps. Jaring pengaman berupa skema penjaminan dana nasabah 100 persen (blanket guarantee) baru dilakukan 27 Januari 1998 ketika segala sesuatu sudah terlambat. Sektor finansial nasional telanjur ambruk dan memerlukan rekapitalisasi lebih dari Rp 600 triliun. Sebuah harga yang teramat mahal. Kesetaraan hubungan Nasi sudah menjadi bubur dan ongkos krisis harus dibayar melalui obligasi rekapitalisasi bank-bank yang bersemayam di APBN hingga belasan, bahkan puluhan tahun ke depan. IMF pun sudah pernah mengakui kesalahan ini. Dengan setting semacam itu, sementara IMF dan Bank Dunia masih nyerocos memberi “khotbah”, adalah wajar jika negara resipien tidak nyaman dengan situasi ini. Karena itu, wajar pula bila Menkeu Sri Mulyani, meski pernah duduk manis di Washington, harus “meradang”. Kini, marilah memulai era baru, yang mengacu pada kesetaraan hubungan antara negara resipien dan lembaga donor multilateral. Hubungan baru harus lebih mengarah ke skema kemitraan (partnership) ketimbang skema yang menempatkan salah satu pihak menjadi “tukang khotbah” (preacher) secara searah. Karena sebenarnya, para ekonom Indonesia-lah yang paling paham terhadap kondisi nyata perekonomian negerinya, bukan pakar-pakar IMF dan Bank Dunia, yang hanya tinggal dua minggu di hotel berbintang lima diamond di Jakarta, lalu mengetik laporannya ke Washington dari tempat mewah itu. A Tony Prasetiantono Dosen Fakultas Ekonomi UGM; Chief Economist Bank BNI sumber : http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0609/25/opini/2978827.htm

Mengenai Saya

Foto saya
Hamba yang penuh dosa. Berharap ampunan Nya.